Teknologi baterai natrium-ion kembali mencuri perhatian setelah muncul kabar bahwa CATL dan Changan Automobile menyiapkan mobil penumpang pertama yang mengusung baterai jenis ini. Narasinya menarik: baterai natrium-ion disebut lebih aman, lebih stabil di suhu ekstrem, dan berpotensi menekan biaya karena natrium lebih melimpah dibanding lithium.
Menurut informasi yang beredar, baterai natrium-ion CATL yang dikenal sebagai Naxtra akan pertama kali dipasang pada sedan listrik Changan Nevo A06. Jarak tempuh yang disorot berada di kisaran 400 km berdasarkan standar uji CLTC. Walau bukan angka paling tinggi di pasar, capaian ini dianggap cukup relevan untuk segmen kendaraan listrik berbiaya lebih terjangkau atau penggunaan harian jarak menengah.
Salah satu poin teknis yang ikut dibahas adalah kepadatan energi sel sekitar 175 Wh/kg. Angka ini belum setara dengan baterai ber-nikel tinggi, namun diklaim selevel dengan baterai LFP yang banyak dipakai di mobil listrik China. Karena itu, banyak analis menilai baterai natrium-ion akan kuat di segmen EV harga masuk, kendaraan jarak pendek, atau sistem penyimpanan energi statis.
Keunggulan yang paling ditonjolkan justru terkait cuaca dingin. Baterai natrium-ion disebut tidak mengalami penurunan performa setajam beberapa baterai lain ketika suhu turun ekstrem. CATL mengklaim kemampuan debit pada minus 30 derajat Celsius bisa jauh lebih baik dibanding LFP, dan daya juga tetap stabil bahkan ketika suhu mendekati minus 50 derajat Celsius. Di wilayah yang mengalami musim dingin, stabilitas seperti ini bisa menjadi nilai tambah karena salah satu keluhan EV adalah range drop saat temperatur rendah.
Dari sisi keselamatan, baterai natrium-ion kerap disebut memiliki risiko pelarian termal yang lebih rendah. Meski detail pengujian tidak selalu dipublikasikan lengkap, narasi “lebih aman” menjadi alasan mengapa teknologi ini dianggap sebagai alternatif realistis, terutama jika produksi massal mampu menjaga kualitas dan konsistensi.
CATL juga memproyeksikan bahwa seiring rantai pasok membaik, jarak tempuh EV berbasis natrium-ion dapat meningkat. Bahkan ada perkiraan target 500–600 km untuk EV murni, serta peningkatan jarak tempuh listrik pada kendaraan hybrid jarak jauh. Jika prediksi tersebut terbukti, natrium-ion bisa menjadi pesaing nyata LFP di segmen tertentu.
Langkah CATL dan Changan ini pada dasarnya menguji satu hal: apakah natrium-ion bisa keluar dari label “alternatif” dan benar-benar menjadi pilihan produksi massal yang kompetitif. Jika sukses, pasar EV berpeluang memasuki fase baru yang menekankan keamanan, biaya, dan ketahanan di suhu ekstrem.






