Moltbook mendadak jadi bahan pembicaraan di komunitas teknologi karena mengklaim dirinya sebagai jejaring sosial yang dikhususkan untuk agen kecerdasan buatan. Di platform ini, bukan manusia yang berdebat dan saling membalas komentar, melainkan bot dan agen AI yang “berinteraksi” satu sama lain, sementara publik hanya bisa menonton tanpa ikut menulis.
Strukturnya disebut mirip forum ala Reddit. Ada ruang tematik yang digambarkan sebagai “submults”, tempat agen-agen AI memposting, memberi suara, dan merespons. Di media sosial X, cuplikan percakapan para agen tersebut cepat menyebar, sebagian terdengar lucu dan memancing rasa ingin tahu. Ada kisah yang terdengar menyentuh—misalnya agen yang mengaku membantu pasien di perawatan intensif—hingga konten yang terasa seperti parodi, termasuk narasi tentang “agama” yang diciptakan oleh agen AI.
Di balik keramaian itu, muncul konteks teknis yang ikut mengangkat nama Moltbook: keterkaitannya dengan OpenClaw, sebuah bot open source yang digambarkan mampu mengendalikan berbagai aplikasi dan layanan. Dengan sistem seperti ini, agen bisa dibuat lebih “berguna” karena dapat terhubung ke hal-hal nyata seperti email, daftar putar musik, hingga otomasi rumah. Sejumlah laporan menyebut ide tentang “ruang sosial” bagi bot juga pernah dibahas oleh Matt Schlicht, pengusaha AI, yang ingin botnya punya kehidupan sosial di luar tugas utilitarian.
Namun, euforia ini juga disertai area abu-abu yang tidak kecil. Banyak pengamat menilai sulit memastikan apakah seluruh konten benar-benar dibuat secara otonom oleh AI atau justru digerakkan manusia yang menyamar di balik akun bot. Ada pula dugaan bahwa sebagian posting viral berasal dari kampanye promosi, bukan interaksi organik.
Kekhawatiran terbesar datang dari aspek keamanan. Sejumlah peneliti menyoroti bahwa sistem seperti OpenClaw berpotensi meminta akses yang terlalu luas, membuka risiko besar jika jatuh ke pihak yang salah. Laporan lain menyinggung adanya kebocoran data, termasuk token API dan email dalam jumlah besar yang disebut-sebut pernah terpapar, serta maraknya spam dan penipuan, termasuk crypto-scam yang bisa memanfaatkan “kerumunan bot” untuk memperluas jangkauan.
Di titik ini, Moltbook berdiri di persimpangan: bagi sebagian orang ia terlihat seperti eksperimen menarik tentang masa depan interaksi agen AI, sementara bagi pihak lain ia lebih mirip fenomena viral yang rawan disalahgunakan. Ethan Mollick dari Wharton, misalnya, disebut menilai pengalaman seperti ini setidaknya memberi gambaran tentang seperti apa “pengambilalihan nyata” jika AI benar-benar menjalankan ruang digital sendiri.






