Barcelona kerap dikenal sebagai klub dengan akademi terbaik di dunia lewat La Masia. Namun, ada satu pertanyaan yang terus muncul: mengapa akademi ini jarang melahirkan striker nomor 9 yang benar-benar tajam dan bertahan lama di tim utama?
Dalam beberapa musim terakhir, banyak pemain inti Barcelona justru tumbuh dari La Masia, mulai dari lini belakang hingga gelandang. Bahkan, pemain muda seperti Lamine Yamal mencatat menit bermain yang sangat besar di tim utama. Tetapi untuk posisi striker murni, Barcelona tetap lebih sering mencari solusi dari bursa transfer.
Salah satu alasan yang sering disebut adalah filosofi latihan. Pola pembinaan di La Masia menekankan teknik tinggi, permainan kombinasi di ruang sempit, dan kecerdasan posisi. Model ini cocok melahirkan gelandang dan winger kreatif, tetapi kadang membuat profil striker “spesialis gol” kurang diprioritaskan jika dianggap tidak memenuhi seluruh kriteria permainan kolektif.
Menurut beberapa pengakuan dari pihak internal, striker di Barcelona bukan hanya dituntut mencetak gol. Mereka juga harus mampu terlibat dalam build-up, turun menjemput bola, menjaga ritme, menekan lawan, dan tetap efektif saat membelakangi gawang. Akibatnya, striker muda yang sebenarnya produktif bisa dinilai “kurang lengkap”.
Alasan lain adalah karakter posisi striker yang minim toleransi. Pemain gelandang bisa diberi menit sedikit demi sedikit untuk adaptasi, sementara striker sering dinilai dari dampak instan. Ketika kesempatan datang, tuntutannya sederhana tetapi berat: harus langsung mencetak gol. Jika tidak, ruang sabar klub biasanya lebih tipis.
Situasi ini membuat Barcelona lebih memilih merekrut striker yang sudah teruji, apalagi saat tim butuh solusi cepat. Maka, meski La Masia tetap menghasilkan talenta besar, untuk posisi penyerang tengah, jalur akademi sering kalah oleh kebutuhan hasil instan dari pasar transfer.






