Industri musik digital tampaknya memasuki babak yang berbeda: bukan hanya soal mendistribusikan lagu, melainkan juga menciptakannya. Dua raksasa teknologi, Google dan Apple, sama-sama mendorong fitur berbasis kecerdasan buatan yang berhubungan langsung dengan musik—dari pembuatan trek hingga kurasi playlist.
Bagi banyak orang, perkembangan ini terasa seperti perubahan peran. Platform yang selama ini berada di belakang layar—menyajikan rekomendasi, mengatur katalog, dan mengolah data kebiasaan mendengar—kini ikut berada di garis depan proses kreatif. Pertanyaannya pun bergeser: siapa pencipta, siapa kurator, dan siapa pemilik karya ketika AI ikut campur?
Dari sisi Google, kemampuan baru di Gemini disebut bisa menghasilkan trek musik berdurasi sekitar 30 detik. Inputnya tidak terbatas pada teks; pengguna dapat memulai dari foto atau video, lalu sistem menyusun hasil yang bisa berupa lagu dengan lirik, versi instrumental murni, hingga artwork sampul otomatis.
Teknologi ini ditenagai model Lyria 3 dari Google DeepMind. Skemanya dibuat “ramah pengguna”: cukup menulis prompt seperti mood lagu yang diinginkan, suasana cerita, atau gaya umum. Untuk pengguna gratis, ada batas pembuatan hingga 10 lagu per hari. Sementara akun berbayar mendapatkan kuota lebih besar, disebut berada pada rentang 20 sampai 100 lagu tergantung paketnya.
Google menekankan aspek kepemilikan hasil dan pengamanannya. Mereka menyebut ada filter untuk mencegah pelanggaran hak cipta, termasuk ketika pengguna menyebut nama musisi tertentu. Dalam skenario itu, sistem hanya meniru “nuansa gaya” secara umum tanpa meniru karya spesifik, setidaknya sebagai klaim desain fitur yang disampaikan.
Di sisi lain, Apple mengambil jalur yang berbeda namun tetap menuju tujuan serupa: personalisasi yang makin generatif. Fitur bernama Playlist Playground di Apple Music memungkinkan pengguna menulis prompt, lalu AI menyusun playlist berisi sekitar 25 lagu lengkap dengan deskripsi singkat dan artwork.
Fitur tersebut dikaitkan dengan Apple Intelligence, masuk dalam iOS 26.4 versi beta, dan dijadwalkan rilis lebih luas pada musim semi 2026. Secara strategi, ini terbaca sebagai langkah Apple untuk memperkuat pengalaman kurasi, wilayah yang selama ini identik dengan dominasi Spotify melalui algoritma personalisasi berbasis data.
Masuknya AI ke ranah musik juga memantik debat lama: apakah ini demokratisasi atau ancaman. Di satu sisi, siapa pun bisa membuat materi audio tanpa studio, tanpa produser, bahkan tanpa kemampuan teknis. Di sisi lain, label besar dan para musisi mengkhawatirkan persoalan orisinalitas, hak cipta, dan model monetisasi yang bisa terdorong ke arah baru.
Pada 2024, sejumlah label besar seperti Universal Music Group, Warner Music Group, dan Sony Music Entertainment sempat menggugat startup AI musik atas dugaan pelanggaran hak cipta. Sebagian kasus kemudian bergerak ke skema lisensi, menandakan industri tidak sepenuhnya menolak AI—namun ingin memastikan ada pagar hukum yang jelas dan pembagian nilai ekonomi yang adil.
Jika ditarik lebih jauh, yang terjadi bukan sekadar “fitur baru” di aplikasi. Ini pertarungan ekosistem: siapa yang menguasai distribusi konten AI, siapa yang memonetisasi kreasi pengguna, dan siapa yang membangun loyalitas kreator generasi baru. Garis antara pendengar dan pencipta kian kabur—dan AI menjadi pintu masuknya.






