Popularitas TikTok di Amerika Serikat tengah menghadapi tantangan serius seiring meningkatnya jumlah pengguna yang menghapus aplikasi tersebut dari perangkat mereka. Di tengah berbagai kendala teknis dan ketidakpastian kebijakan, sebagian pengguna mulai melirik aplikasi media sosial independen sebagai alternatif.
Dalam beberapa bulan terakhir, TikTok dilaporkan mengalami sejumlah gangguan, mulai dari masalah tampilan hingga rekomendasi konten yang dinilai tidak relevan. Kondisi ini memicu ketidakpuasan di kalangan pengguna. Berdasarkan data dari Sensor Tower, tingkat penghapusan aplikasi TikTok di Amerika Serikat dilaporkan melonjak hingga sekitar 150 persen dalam kurun tiga bulan terakhir.
Situasi tersebut membuka peluang bagi platform lain untuk menarik perhatian publik. Salah satu yang mencuri sorotan adalah UpScrolled, aplikasi asal Australia yang sebelumnya relatif tidak dikenal. Platform ini menawarkan konsep berbagi foto dan video pendek dengan alur kronologis, mengusung pendekatan yang lebih sederhana dan transparan dibandingkan jejaring sosial besar.
UpScrolled, yang dirilis pada Juni tahun lalu, didanai secara independen oleh pendirinya Issam Hijazi bersama sejumlah kecil investor swasta. Dalam waktu singkat, aplikasi ini berhasil menembus peringkat sepuluh besar di App Store Amerika Serikat dan menduduki posisi kedua dalam kategori jejaring sosial, tepat di bawah Threads milik Meta.
Lonjakan popularitas UpScrolled terjadi bertepatan dengan periode restrukturisasi TikTok di Amerika Serikat. Dalam rentang beberapa hari, aplikasi tersebut mencatat puluhan ribu unduhan baru dan berhasil masuk jajaran lima besar aplikasi terpopuler di sejumlah negara berbahasa Inggris. Pertumbuhan yang sangat cepat ini bahkan membuat tim pengembangnya meminta pengguna untuk bersabar menghadapi keterbatasan teknis akibat lonjakan trafik.
Fenomena migrasi pengguna ke platform alternatif sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun sebelumnya, aplikasi lain sempat mengalami lonjakan serupa ketika TikTok menghadapi ancaman pelarangan di Amerika Serikat, meski kemudian popularitasnya meredup setelah situasi kembali normal.
Namun kali ini, kondisi tampak berbeda. Kelelahan pengguna terhadap gangguan berulang, ditambah kurangnya kejelasan dari platform besar, membuat sebagian pengguna mulai mempertimbangkan ruang digital yang dinilai lebih adil dan ramah. Pihak UpScrolled menyatakan ambisinya untuk menciptakan ekosistem di mana setiap unggahan memiliki peluang yang sama untuk dilihat, tanpa bergantung pada algoritma yang tertutup atau kebijakan yang berubah-ubah.
Perkembangan ini menandai potensi perubahan kebiasaan pengguna media sosial, sekaligus menjadi ujian bagi platform independen untuk mempertahankan kepercayaan publik di tengah tekanan pasar dan persaingan yang semakin ketat.






