Konser Westlife: A Gala Evening in Jakarta pada Selasa malam (10/2/2026) menghadirkan antusiasme besar penggemar. Venue NICE PIK 2 dipenuhi penonton sejak sebelum acara dimulai, memperlihatkan betapa kuatnya basis fans Westlife di Indonesia. Namun, membludaknya massa juga memunculkan tantangan di pintu masuk.
Saat musik pembuka mulai diputar, masih banyak penonton yang belum berhasil masuk ke area duduk. Di sejumlah akses, antrean memadat dan terjadi desakan yang membuat situasi sempat tidak kondusif. Meski begitu, banyak fans tetap mencoba menikmati momen—bahkan ada yang bernyanyi bersama sambil bergerak menuju kursi, seolah menolak kehilangan atmosfer konser walau masih terjebak lorong.
Format konser kali ini terasa berbeda karena mengusung konsep orkestra. Nuansa musik yang lebih megah membuat lagu-lagu Westlife terdengar lebih dramatis, sekaligus memberi pengalaman baru bagi penonton yang mungkin sudah berkali-kali menyaksikan konser mereka dalam format band biasa.
Salah satu momen paling ramai terjadi menjelang lagu “My Love”. Westlife meminta penonton menyalakan flashlight ponsel, menciptakan lautan cahaya yang perlahan memenuhi venue. Momen ini kemudian jadi semakin seru ketika Nicky Byrne mencoba memberi instruksi dalam bahasa Indonesia: “bawah” dan “atas”.
Ketika penonton merespons dengan sorakan, Nicky makin percaya diri dan melanjutkan arahan “atas, bawah, atas, bawah” yang membuat gerak cahaya dari ribuan flashlight terlihat seperti gelombang. Visual sederhana itu mendadak berubah menjadi adegan ikonik malam tersebut—paduan antara humor, interaksi, dan rasa kebersamaan.
Di tengah suasana itu, Shane Filan sempat “salah fokus” melihat kombinasi warna cahaya tertentu di area penonton. Dari panggung, ia menanyakan apakah itu perpaduan putih dan emas. Nicky lalu menjelaskan ada kehadiran Duta Besar Irlandia untuk Indonesia, sehingga penonton seolah mencoba membentuk warna bendera Irlandia. Interaksi spontan semacam ini membuat konser terasa cair dan dekat.
Humor juga muncul ketika Kian Egan menanggapi candaan penonton tentang usia lagu-lagu mereka. Ia mengingatkan, bukan hanya Westlife yang bertambah tua, penonton pun demikian. Kalimat itu disambut tawa, namun juga terasa hangat—seolah mengakui bahwa perjalanan musik Westlife memang sudah menemani fans melewati banyak fase hidup.
Konser ditutup dengan suasana emosional menjelang “Swear It Again”. Di akhir, para personel Westlife menyampaikan janji untuk kembali menyapa penggemar Indonesia di tahun berikutnya. Bagi fans, janji itu menjadi penutup yang manis setelah malam yang penuh antusiasme, sedikit drama antrean, dan satu momen “atas–bawah” yang kemungkinan akan terus diingat lama.






