The Jansen kembali mengejutkan pendengar lewat single baru berjudul “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)”. Lagu ini menjadi pintu masuk menuju album keempat mereka, Romantisasi Impulsif, sekaligus menandai penutup dari trilogi yang sudah dimulai sejak Banal Semakin Binal dan berlanjut ke Durja Bersahaja.
Yang membuat rilisan ini menarik adalah keberanian The Jansen bermain di wilayah yang belum pernah mereka sentuh secara sengaja: lagu cinta. Selama ini, band tersebut dikenal lewat karakter yang tajam, khas, dan sering membawa warna musik yang penuh kejutan. Kehadiran single ini seperti membuka sisi lain yang lebih lembut, tetapi tetap punya identitas yang kuat.
Adji menyebut bahwa ini adalah pertama kalinya The Jansen membuat lagu cinta dengan sengaja. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi cukup penting. Artinya, single ini bukan sekadar selipan di tengah diskografi, melainkan keputusan sadar untuk mengubah arah rasa, setidaknya untuk satu bab dalam perjalanan mereka.
Secara visual, video lirik lagu ini juga digarap dengan konsep yang tidak biasa. Nuansanya mengambil inspirasi film Hongkong era 90-an, lalu lirik ditampilkan dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Sentuhan ini memberi kesan sinematik sekaligus memperluas lapisan makna yang ingin disampaikan band kepada pendengar.
“bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)” tidak hanya menjadi single biasa, tetapi semacam penanda bahwa The Jansen masih suka bergerak di luar kebiasaan. Ketika banyak band memilih bermain aman di rumus lama, mereka justru memilih masuk ke ruang baru yang lebih penuh pertanyaan. Hasilnya bukan hanya lagu, tetapi juga rasa penasaran tentang seperti apa album mendatang akan dibangun.
Album Romantisasi Impulsif sendiri digambarkan sebagai karya dua belas lagu yang menutup sebuah trilogi. Karena itu, single ini punya fungsi penting: menjadi gerbang awal yang memberi petunjuk arah musikal album tersebut. Apakah nuansanya akan lebih manis, lebih reflektif, atau malah menyimpan sisi ironis yang khas The Jansen, semuanya masih jadi ruang teka-teki yang menarik.
Bagi pendengar, rilisan ini terasa seperti undangan untuk melihat The Jansen dari sudut yang lebih baru. Lagu cinta pertama mereka bukan hanya soal romantis, tetapi juga soal keberanian untuk mengubah posisi tanpa kehilangan karakter. Itu yang membuat single ini terasa penting dalam perjalanan band, karena ia membuka fase baru tanpa menutup gaya lama sepenuhnya.
Dengan langkah ini, The Jansen sekali lagi menunjukkan bahwa mereka tidak pernah puas berada di zona nyaman. Ada rasa ingin tahu, ada perubahan, dan ada kejutan yang sengaja dipasang di depan pintu album baru. Kalau ini baru pembukanya, maka Romantisasi Impulsif jelas layak diantisipasi.






