Upaya pemulihan pascabanjir di Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, terus berjalan. Polres Ciamis Polda Jawa Barat mengerahkan personel untuk bergabung bersama relawan dan warga, salah satunya dari Satuan Samapta yang turun langsung membantu pembersihan area terdampak.
Fokus utama kegiatan pemulihan ini adalah fasilitas umum yang terdampak luapan air. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian ialah bangunan sekolah di Jl. Kubangpari No.215, Desa Bangunsari, Kecamatan Pamarican. Setelah air surut, lumpur dan sisa material banjir masih menempel di berbagai sudut bangunan, sehingga dibutuhkan kerja cepat agar aktivitas belajar dapat kembali berjalan.
Dalam prosesnya, Kasat Samapta Polres Ciamis memimpin langsung personel di lapangan. Mereka bergotong royong bersama masyarakat serta relawan kebencanaan membersihkan ruang-ruang sekolah dan lingkungan sekitar. Kegiatan semacam ini bukan hanya soal tenaga, tetapi juga koordinasi, karena pekerjaan pembersihan perlu dilakukan bertahap agar tidak mengganggu jalur distribusi bantuan dan mobilitas warga.
Polres Ciamis menyampaikan bahwa pembersihan dilakukan sebagai bentuk kepedulian Polri dalam penanggulangan pascabencana. Selain Samapta, unsur lain seperti Polsek Pamarican juga turut terlibat. Di lapangan, kolaborasi diperluas dengan melibatkan pihak sekolah, TNI, dan relawan, sehingga proses pemulihan bisa lebih cepat dan merata.
Menurut keterangan yang disampaikan melalui Kasat Samapta, sinergi lintas pihak tersebut akan terus dilakukan sampai situasi kembali pulih dan aktivitas masyarakat dapat berjalan normal. Tidak hanya pembersihan fisik, pendampingan untuk warga terdampak juga menjadi perhatian, termasuk upaya trauma healing bagi korban yang mengalami tekanan psikologis setelah bencana.
Langkah ini juga diposisikan sebagai bagian dari pelayanan prima kepolisian kepada masyarakat. Kehadiran personel di titik terdampak diharapkan memperkuat kedekatan dengan warga serta meningkatkan sinergi saat menghadapi kondisi darurat. Dalam bencana, respons cepat bukan hanya meringankan beban, tetapi juga memulihkan rasa aman di tengah warga.
Peristiwa banjir di Pamarican dipicu oleh jebolnya tanggul Sungai Cintalahab yang tidak kuat menahan tingginya debit air saat hujan deras berintensitas tinggi. Dampaknya meluas, dengan sejumlah rumah warga di beberapa RW terdampak serta lahan sawah ratusan hektare yang disebut siap panen ikut tergenang.
Seiring air yang mulai surut, tantangan berikutnya adalah memastikan wilayah terdampak benar-benar bersih, fasilitas umum kembali berfungsi, dan masyarakat dapat beraktivitas tanpa khawatir penyakit pascabanjir. Karena itu, aksi gotong royong menjadi kunci: semakin cepat pembersihan dilakukan, semakin cepat pula roda kehidupan warga bisa bergerak normal kembali.






