Musik Batak sedang didorong naik kelas lewat rangkaian konser panjang bertajuk Road to 165. Program ini diinisiasi oleh Effendi Simbolon dan dipromotori Posan Tobing bersama Anak Ni Raja Production sebagai bagian perayaan 165 tahun HKBP Management.
Sejak awal, Road to 165 tidak diposisikan hanya sebagai acara panggung yang selesai setelah lampu padam. Konsepnya dirancang sebagai gerakan budaya—sebuah upaya menjaga musik Batak tetap hidup, tetap relevan, dan tetap bisa dinikmati lintas generasi, bukan hanya oleh komunitasnya sendiri.
Tur ini sudah mulai menunjukkan daya tariknya. Tiga kota besar tercatat telah menjadi tuan rumah: Surabaya, Semarang, dan Bandung. Di setiap kota, antusiasme penonton disebut tinggi, menjadi sinyal bahwa musik daerah bisa punya ruang luas ketika dikemas dengan serius.
Line-up yang dibawa pun tidak main-main. Sejumlah musisi Batak tampil, dan panggung turut diisi nama-nama yang lebih dikenal secara nasional. Daftar yang disebut di rangkaian ini antara lain Marsada Band, Osen Hutasoit, Tongam Sirait, Maria Calista, Alex Hutajulu, Angel Voice, Simbolon Band, hingga Bastian Steel.
Jakarta menjadi salah satu titik penting berikutnya karena dipersiapkan dengan konsep yang lebih besar. Kota ini direncanakan menghadirkan pertunjukan yang lebih spektakuler, sekaligus menguatkan narasi bahwa Road to 165 bukan tur “sekali lewat”, melainkan rangkaian bertahap menuju puncak.
Targetnya ambisius: menyambangi 165 kota di Indonesia. Jika rencana ini terwujud, Road to 165 akan tercatat sebagai salah satu tur musik Batak terbesar yang pernah digelar, baik dari sisi jangkauan maupun konsistensi produksi.
Puncak perayaan dijadwalkan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SU GBK) pada Oktober 2026. Penetapan lokasi ini mengandung pesan simbolik: musik Batak tidak hanya ingin bertahan, tetapi juga ingin berdiri di panggung nasional yang selama ini identik dengan konser raksasa.
Rencana Road to 165 juga tidak berhenti di dalam negeri. Program ini disebut menyiapkan langkah internasional dengan agenda merambah Amerika Serikat, Eropa, serta sejumlah kota di Jerman. Jika terealisasi, tur ini bisa menjadi jembatan bagi diaspora sekaligus ajang memperkenalkan warna musik Batak ke audiens baru.
Effendi Simbolon menegaskan bahwa konser ini bersifat sekuler dan terbuka untuk umum. Sementara Posan Tobing menekankan kualitas produksi di setiap kota harus tetap maksimal agar energi, rasa, dan semangat budaya Batak bisa dirasakan merata, tidak timpang antara kota besar dan kota kecil.
Dengan format lintas generasi, produksi berskala besar, dan peta tur ratusan kota, Road to 165 menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi musik Batak di panggung nasional—sekaligus membuka jalur agar karya-karya daerah tidak hanya “bertahan”, tetapi berkembang dan dikenal lebih luas.






