Bulan Ramadan kembali menjadi musim panen bagi pedagang kolang-kaling di sejumlah daerah Jawa Barat, termasuk Kuningan. Bahan makanan yang pada bulan-bulan biasa cenderung sepi peminat ini mendadak ramai dicari karena identik dengan sajian takjil dan kudapan berbuka puasa.
Di pasar tradisional, kolang-kaling atau yang juga dikenal sebagai cangkaleng di beberapa wilayah Jawa Barat, mulai mengalami kenaikan permintaan sejak awal Ramadan. Para pedagang mengaku penjualan meningkat dibanding periode non-Ramadan, sehingga omzet harian ikut terdongkrak.
Salah seorang pedagang di Pasar Baru Kuningan, Marni (37), menilai kolang-kaling sudah telanjur lekat sebagai makanan khas berbuka puasa. Menurutnya, banyak orang mencari bahan ini untuk diolah menjadi campuran minuman manis atau makanan penutup setelah seharian berpuasa.
Dalam penyebutan lokal, buah aren yang masih berkulit disebut caruluk, sedangkan biji putih yang sudah diambil dan diolah disebut cangkaleng. Perbedaan istilah ini menunjukkan kuatnya keterikatan kolang-kaling dengan tradisi kuliner masyarakat Jawa Barat.
Kolang-kaling tidak hanya ditemukan di Kuningan, tetapi juga banyak dijumpai di wilayah lain seperti Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Majalengka, dan daerah lain di Jawa Barat. Salah satu sentra produksi yang cukup dikenal adalah Desa Sukamanah, Kabupaten Cianjur.
Di desa tersebut, perajin kolang-kaling seperti Barnas (63) telah lama menekuni usaha ini dan menjaga teknik pengolahan secara turun-temurun. Pengalaman bertahun-tahun membuat produk yang dihasilkannya dikenal memiliki rasa manis pas dan tekstur kenyal yang disukai pembeli.
Menurut Barnas, Ramadan selalu menjadi momen paling dinanti karena membawa peningkatan penjualan yang signifikan. Saat di luar Ramadan omzet cenderung menurun, pada bulan puasa permintaan naik dan membantu pelaku usaha kecil menyiapkan kebutuhan ekonomi menjelang Lebaran.
Ia menyebut harga jual kolang-kaling sekitar Rp18.000 per kilogram dan omzet harian selama Ramadan bisa mencapai kurang lebih Rp500 ribu per hari. Angka itu menunjukkan bahwa komoditas sederhana ini dapat memberi dampak nyata bagi penghasilan pedagang dan perajin musiman.
Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana makanan tradisional tetap memiliki tempat kuat dalam budaya Ramadan. Bagi banyak keluarga, kolang-kaling bukan hanya bahan takjil yang menyegarkan, tetapi juga simbol kebersamaan dan kearifan lokal yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.






