Prosatanica kembali menegaskan eksistensinya di jalur ekstrem. Grup death metal asal Jakarta Barat ini mengumumkan perilisan single terbaru berjudul “Pharaoh”, yang diposisikan sebagai penanda fase baru: lebih masif, lebih gelap, dan lebih destruktif dibanding pendekatan mereka sebelumnya.
Dalam konsep yang dibangun, “Pharaoh” mengambil inspirasi dari mitologi dan simbol kekuasaan Mesir kuno. Lagu ini memotret sosok penguasa absolut yang dibingkai oleh kehancuran, kultus, dan dominasi—tema yang sejalan dengan karakter death metal yang keras dan konfrontatif.
Nuansa tersebut juga dipertegas lewat artwork. Visualnya menampilkan figur Pharaoh bersayap di atas singgasana, dengan latar piramida dan kobaran api. Atmosfer megah namun brutal itu menjadi “pembuka pintu” yang mengisyaratkan isi musik: gelap, agresif, dan tanpa kompromi.
Secara musikal, Prosatanica tetap berakar pada brutal death metal yang menjadi identitas mereka. Namun pada single ini, band disebut memperkaya pendekatan dengan eksplorasi aransemen yang lebih modern, lebih teknikal, dan lebih bertenaga, sehingga terdengar lebih tajam tanpa kehilangan karakter awal.
Nama Prosatanica sendiri bukan pendatang baru. Band ini terbentuk pada 1994 dan kerap disebut sebagai salah satu pionir death metal di Indonesia. Sejak awal kemunculan, mereka dikenal membawa warna ekstrem yang brutal, gelap, dan konsisten di skena underground.
Pada 1998, Prosatanica merilis materi independen melalui kaset kompilasi 5 Way Split Manic Trooper Underground Session bersama Brutal Dimension, Bluessky, Heavens Gate, dan Ngaben. Di fase itu, pengaruh godfather death metal seperti Suffocation dan Cannibal Corpse disebut ikut membentuk gaya mereka: komposisi cepat, teknikal, dan agresif.
Lompatan besar terjadi pada 2002 ketika mereka merilis album penuh perdana “Bloody Agressor”. Rilisan itu menjadi tonggak yang memperkuat posisi Prosatanica di ranah death metal bawah tanah, meski perjalanan mereka sempat jarang terdengar di permukaan arus utama.
Salah satu identitas kuat band ini adalah karakter vokal growling Bento Bandito yang dalam dan pekat. Gaya vokal tersebut disebut menjadi penanda khas Prosatanica, sekaligus terus berkembang mengikuti progres musikal band dari era ke era.
Memasuki “era kedua”, Prosatanica merilis album penuh kedua “Pisau Bernoda Darah” lewat Sulung Extreme Music dalam format CD. Album itu hadir setelah jeda panjang 14 tahun, yang dipengaruhi pergantian personel dan kesibukan masing-masing anggota.
Meski jaraknya jauh, proses workshop dan penggodokan materi yang intens menghasilkan delapan lagu dengan ciri sound gitar lebih gahar, sentuhan neo-classical, dentuman drum yang padat dan cepat, serta produksi yang lebih solid. Dengan modal itu, band menegaskan bahwa brutalitas bisa tetap konsisten sekaligus matang.
Kini, “Pharaoh” menjadi bukti bahwa Prosatanica kembali bergerak dengan energi baru tanpa meninggalkan akar ekstremnya. Formasi yang disebut saat ini terdiri dari Bento (vokal), MJ dan Rudy (gitar), Sigit (bass), serta Wahyu (drum), dan mereka menyatakan siap menebar “kehancuran” ke generasi berikutnya di skena death metal Indonesia.






