Satu unggahan dari akun Netflix Brasil mendadak memicu keramaian besar di komunitas anime. Pada 30 Januari, akun tersebut menulis pernyataan yang terdengar absolut: “Goku adalah karakter paling kuat di dunia anime. Siapa yang tidak setuju berada di luar industri.” Kalimat itu menyebar cepat, menembus komunitas berbagai negara, lalu menjadi bahan adu argumen yang tak ada habisnya.
Reaksi paling menarik datang saat pernyataan itu ikut beredar di Jepang. Banyak netizen di sana menanggapinya dengan gaya yang lebih sinis dan realistis, menyoroti bahwa tokoh utama Dragon Ball tidak selalu tampil “tak terkalahkan” dalam cerita. Mereka menilai label “terkuat” terlalu menyederhanakan konteks, apalagi Goku kerap berada dalam situasi sulit dan butuh berkembang untuk menang.
Perdebatan lalu meluas ke perbandingan lintas semesta cerita. Ada yang menantang klaim tersebut dengan menyebut karakter lain yang dianggap punya kekuatan “instan” atau konsep kemampuan yang mematahkan logika duel biasa. Nama seperti Saitama kerap muncul sebagai lelucon serius, sementara sebagian netizen menyinggung Gojo Satoru dengan konsep kemampuan yang sulit ditembus, bahkan ada pula yang menyebut Death Note sebagai “jalan pintas” yang membuat pertarungan fisik terasa tidak relevan.
Di sisi lain, sebagian penggemar menilai pernyataan Netflix Brasil lebih tepat dibaca sebagai bentuk hype dan candaan media sosial, bukan pengukuhan resmi semacam “kejuaraan dunia”. Meski begitu, efeknya nyata: diskusi soal “siapa paling kuat” kembali menjadi bahan ramai—sekaligus bukti bahwa pengaruh Goku dalam budaya pop tetap besar, terlepas dari perdebatan statistik kekuatan di dalam cerita.






