Band elektronik asal Bali, Microbot, resmi merilis album Color Of dalam format digital pada 2026. Perilisan ini terasa penting bukan hanya karena menghadirkan karya lama ke platform yang lebih mudah diakses, tetapi juga karena membuka kembali salah satu arsip menarik dari fase awal perkembangan musik elektronik independen di Indonesia.
Microbot terbentuk di Denpasar pada 2005 oleh sejumlah mahasiswa Universitas Udayana yang memiliki ketertarikan kuat pada musik elektronik. Pada masa itu, skena musik Bali masih didominasi oleh punk rock dan metal. Di tengah arus utama tersebut, Microbot justru memilih jalur yang berbeda dengan mengeksplorasi sound elektronik yang saat itu masih terasa asing bagi banyak pendengar lokal.
Album Color Of mulai ditulis pada periode 2005 hingga 2006 oleh Ronald Microbot dan Richart Volx. Proses produksinya tidak berlangsung cepat. Rekaman baru benar-benar rampung pada 2010 dengan peralatan sederhana di sebuah bedroom studio. Fakta ini membuat album tersebut terasa semakin menarik, karena ia lahir dari proses yang organik, eksperimental, dan jauh dari fasilitas produksi mewah.
Meski materi albumnya sudah selesai cukup lama, Color Of sempat tertahan bertahun-tahun sebelum akhirnya dirilis terbatas dalam format CD pada 2020 melalui SRMK Records. Kini, enam tahun setelah perilisan fisik terbatas itu, album tersebut dibuka lagi dalam format digital agar bisa menjangkau pendengar yang lebih luas. Langkah ini terasa relevan karena skena musik elektronik Indonesia belakangan kembali bergerak dan pendengar baru semakin terbuka terhadap rilisan-rilisan lama yang sebelumnya sulit diakses.
Secara konsep, Color Of dibangun sebagai representasi keberagaman karakter dalam tiap trek. Setiap lagu membawa nuansa berbeda, seolah memperlihatkan bahwa Microbot sejak awal memang tidak ingin terikat pada satu warna elektronik saja. Justru dari situ kekuatan album ini terasa, karena ia tidak terdengar seperti proyek yang dibatasi aturan genre terlalu ketat.
Di dalamnya ada sentuhan industrial dan breakbeat pada “Kick n Rush”, nuansa darkwave pada “Landasan Roket”, sampai elemen lokal seperti gamelan di “Good Morning”. Lagu “1928” bahkan mengolah teks Sumpah Pemuda dalam balutan jungle, sementara “Indah” diposisikan sebagai penutup yang menjadi semacam tribut untuk Bali. Variasi ini menunjukkan keberanian artistik yang cukup besar, terutama untuk karya yang ditulis saat skena elektronik lokal belum seramai sekarang.
Perilisan digital album ini juga mempertegas bahwa Color Of bukan sekadar rilisan lama yang akhirnya diunggah ke internet. Album ini lebih tepat dilihat sebagai kapsul waktu yang merekam momen penting dari fase awal musik elektronik Indonesia, ketika eksperimen dilakukan dengan jujur, bebas, dan tanpa tekanan untuk selalu mengikuti tren pasar. Singkatnya, ini bukan album yang datang terlambat, melainkan album yang akhirnya datang ke tempat yang lebih tepat.
Dengan hadirnya Color Of di platform digital, pendengar generasi baru kini punya kesempatan untuk menelusuri salah satu jejak awal musik elektronik Indonesia dari perspektif yang lebih mentah dan orisinal. Jika karya-karya seperti ini terus dibuka kembali, maka sejarah skena elektronik lokal tidak hanya akan dikenang lewat cerita, tetapi juga lewat rilisan nyata yang masih bisa didengar dan dinikmati hari ini.






