Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan ingin mitra-mitra Eropa ikut terlibat dalam pembukaan kembali jalur dialog dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Ia menilai Eropa perlu memiliki ruang komunikasi sendiri agar tidak bergantung pada pihak ketiga dalam proses pembicaraan terkait perang di Ukraina.
Macron menyampaikan pernyataan tersebut setelah ia mengirim penasihat senior ke Moskow pada pekan sebelumnya. Langkah itu disebut menjadi salah satu kontak tingkat tinggi yang jarang terjadi sejak konflik pecah, dengan tujuan memulihkan kembali komunikasi teknis.
Menurut Macron, jalur pembicaraan harus dibangun secara terukur dengan mandat yang jelas. Ia juga menekankan dialog tidak boleh bersifat naif, tidak menekan posisi Ukraina, tetapi tetap diperlukan karena realitas geopolitik membuat Rusia akan terus menjadi bagian dari lanskap Eropa.
Dari pihak Rusia, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menyatakan Putin siap menerima komunikasi dari pemimpin Prancis apabila ada pembahasan yang dianggap serius. Pernyataan itu memperkuat sinyal bahwa kontak diplomatik bisa kembali berjalan, setidaknya pada level tertentu.
Catatan komunikasi publik antara kedua pemimpin sempat disebut terjadi terakhir kali pada Juli 2025, setelah periode jeda panjang. Pada fase awal konflik, Macron sempat melakukan sejumlah panggilan untuk memperingatkan Rusia agar tidak mengirim pasukan ke Ukraina.
Meski pernah mempertahankan kontak beberapa waktu setelah perang berlangsung, komunikasi kemudian mereda. Kini, Macron mendorong agar Eropa menata kembali pendekatan diplomatiknya dengan tetap mempertimbangkan kepentingan keamanan kawasan.






