Kehadiran KRI Prabu Siliwangi-321 dinilai menjadi penguatan penting bagi kemampuan TNI Angkatan Laut dalam menjaga kedaulatan maritim Indonesia. Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Muhammad Ali menegaskan bahwa kapal perang terbaru buatan Italia tersebut membawa kemampuan sensor dan sistem tempur yang lebih baik dibanding kapal-kapal yang sebelumnya dimiliki.
Pernyataan itu disampaikan usai penyambutan ketibaan kapal di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Menurut Ali, kemampuan KRI Prabu Siliwangi-321 bisa disejajarkan dengan kapal yang dimiliki negara-negara kawasan seperti Australia, Singapura, dan Vietnam. Ini menjadi penanda bahwa modernisasi armada TNI AL kini mulai bergerak pada level yang semakin kompetitif di Asia Tenggara.
KRI Prabu Siliwangi-321 merupakan kapal patroli lepas pantai atau offshore patrol vessel yang tergolong dalam kelas Brawijaya. Meski secara dasar dirancang sebagai OPV, kapal ini disebut dapat dikembangkan lebih jauh menjadi fregat, yang berarti perannya tidak hanya terbatas pada patroli, tetapi juga bisa diperluas untuk tugas tempur yang lebih kompleks.
Dari sisi ukuran, kapal ini juga mencuri perhatian. Dengan panjang 143 meter dan lebar 16,5 meter, Muhammad Ali bahkan menyebutnya sebagai salah satu kapal terbesar di kawasan Asia Tenggara untuk kelasnya. Ukuran itu tidak sekadar memberi kesan gagah, tetapi juga mendukung fleksibilitas kapal dalam menjalankan berbagai misi di laut terbuka.
KRI Prabu Siliwangi-321 dijadwalkan memperkuat jajaran TNI AL di bawah Satuan Eskorta Komando Armada II, Surabaya, Jawa Timur. Dalam waktu dekat, kapal ini juga akan dilibatkan dalam latihan tempur untuk menguji seluruh sistem persenjataan dan kemampuan operasional yang dimilikinya. Jadi, kapal ini tidak datang hanya untuk dipamerkan di dermaga lalu foto-foto selesai.
Kapal perang tersebut berlayar dari Pangkalan Angkatan Laut La Spezia, Italia, pada 11 Februari 2026 sebelum akhirnya tiba di Jakarta pada Kamis, 26 Maret 2026. Dalam perjalanan menuju Indonesia, KRI Prabu Siliwangi sempat singgah di beberapa negara seperti Maroko dan Nigeria, serta berhenti di Lampung sebelum melanjutkan pelayaran ke ibu kota.
Dari sisi peran, kapal ini dirancang untuk berbagai misi sekaligus. Mulai dari patroli, peperangan permukaan, peperangan bawah laut, peperangan udara, pengawalan aset penting, penegakan hukum di laut, hingga operasi kemanusiaan. Karakter multirole seperti ini memperlihatkan bahwa kapal tersebut dirancang bukan untuk satu skenario sempit, tetapi untuk menghadapi spektrum operasi yang luas.
Persenjataannya juga tergolong lengkap. KRI Prabu Siliwangi dibekali meriam utama OTO Melara 127 milimeter, meriam 76 milimeter Strales untuk sasaran udara jarak menengah, 16 peluncur rudal vertikal untuk pertahanan udara, rudal Teseo Mk-2E untuk target permukaan, torpedo antikapal selam, hingga senjata otomatis jarak dekat. Dengan konfigurasi ini, kapal tersebut jelas masuk ke kategori platform tempur yang serius.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana TNI Tunggul juga menegaskan bahwa kehadiran KRI Prabu Siliwangi-321 memperlihatkan langkah maju Indonesia dalam memodernisasi sistem persenjataan laut. Di tengah pentingnya jalur maritim bagi keamanan nasional dan ekonomi, kapal ini menjadi simbol bahwa Indonesia tidak hanya ingin hadir di laut, tetapi juga tampil lebih siap, lebih modern, dan lebih percaya diri dalam menjaganya.






