Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil langkah yang tak biasa menjelang arus mudik Idulfitri 2026. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan kompensasi harian kepada para pencari koin di sekitar Jembatan Sewo, perbatasan Indramayu–Subang, agar aktivitas mereka tidak mengganggu kelancaran lalu lintas selama masa Lebaran.
Skema yang ditawarkan adalah uang kompensasi Rp50.000 per orang per hari. Tujuan utamanya dua: mencegah tersendatnya arus kendaraan di jalur Pantura dan menekan risiko keselamatan, baik bagi pengendara maupun bagi para pencari koin yang beraktivitas di area berbahaya.
Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, menyampaikan imbauan langsung agar para pencari koin tidak turun ke jalur Indramayu–Subang selama periode Idulfitri. Ia juga menyinggung bahwa kompensasi ini dimaksudkan sebagai “uang lebaran” agar mereka tetap punya pemasukan tanpa harus berada di jalan.
Pelaksanaan kompensasi akan melibatkan perangkat desa. Para pencari koin diminta berkoordinasi dengan kepala desa, sementara RT/RW membantu pendataan warga yang berhak. Mekanisme ini dipilih agar penyaluran lebih tertib dan tidak menimbulkan rebutan di lapangan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jawa Barat, Ade Afriandi, menjelaskan durasi kompensasi dirancang untuk 12 hari: enam hari sebelum Idulfitri dan enam hari setelahnya. Jika dihitung, tiap orang berpotensi menerima Rp50.000 x 12 hari selama mereka tidak beraktivitas di jalur tersebut.
Data awal DPMD per Selasa (17/3/2026) mencatat 104 pencari koin di Desa Sukra, Kecamatan Sukra, Indramayu. Di sisi lain perbatasan, Desa Karanganyar, Kecamatan Pusaka Jaya, Subang, tercatat 55 orang. Namun, angka ini masih bisa berubah karena fenomena pencari koin musiman.
Kelompok musiman ini kerap muncul saat periode ramai, termasuk ketika arus mudik dan balik meningkat. Walau penertiban sudah dilakukan aparat, dorongan ekonomi dan kebiasaan yang berlangsung lama membuat aktivitas itu terus berulang. Karena itu, pemerintah berencana melakukan pendataan ulang agar bantuan tepat sasaran.
Di lapangan, aktivitas pencari koin berpotensi mengganggu karena menarik perhatian pengemudi, memicu perlambatan, dan meningkatkan risiko kecelakaan. Dalam konteks Pantura yang padat, satu titik kecil saja bisa menciptakan efek domino kemacetan. Kebijakan kompensasi ini diharapkan menjadi pendekatan yang lebih manusiawi ketimbang sekadar penertiban berulang.
Jika program ini berjalan rapi, Jawa Barat berharap jalur Indramayu–Subang lebih aman selama Lebaran. Pada akhirnya, semua pihak diuntungkan: pemudik melaju lebih lancar, risiko kecelakaan turun, dan para pencari koin tetap punya pegangan pemasukan tanpa harus “adu cepat” dengan kendaraan di Pantura.






