Pemerintah Kabupaten Bogor resmi memulai uji coba layanan transportasi massal ramah lingkungan bernama KaBogor Bus Listrik. Program ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan moda angkutan publik yang lebih modern, efisien, dan mendukung pengurangan emisi di wilayah Bogor yang mobilitas warganya terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pada tahap awal, sebanyak empat armada bus listrik mulai dioperasikan dan dapat dimanfaatkan masyarakat tanpa biaya selama tiga bulan ke depan. Masa uji coba gratis ini dimaksudkan sebagai periode pengenalan sekaligus evaluasi, agar pemerintah dapat melihat langsung respons masyarakat sebelum layanan diarahkan ke skema operasional yang lebih permanen.
Bupati Bogor Rudy Susmanto menyebut kehadiran KaBogor Bus Listrik sebagai langkah strategis untuk menghadirkan transportasi publik yang lebih efisien sekaligus selaras dengan agenda penghematan energi. Menurutnya, layanan ini ke depan dirancang memakai skema buy the service atau BTS, dengan dukungan subsidi dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pola semacam ini diharapkan dapat membuat layanan tetap berjalan stabil tanpa membebani pengguna secara berlebihan.
Peluncuran uji coba dilakukan saat kegiatan Car Free Day di kawasan Jalan Tegar Beriman. Pemilihan momentum tersebut terasa cukup simbolis, karena bus listrik memang diposisikan sebagai bagian dari upaya mendorong penggunaan transportasi publik yang lebih bersih dan lebih ramah terhadap lingkungan di Kabupaten Bogor.
Rute awal KaBogor Bus Listrik menghubungkan kawasan Bojonggede hingga Sentul City. Sejumlah titik berhenti strategis juga telah dipilih, termasuk area AEON Mall Sentul City dan halte yang terintegrasi dengan layanan TransJakarta. Pengaturan rute ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya memikirkan mobilitas di dalam Bogor, tetapi juga mulai memetakan konektivitas antarkawasan menuju wilayah penyangga Jakarta.
Salah satu alasan utama pemilihan trayek tersebut adalah tingginya aktivitas di Stasiun Bojonggede yang melayani sekitar 50 ribu penumpang per hari. Dengan volume sebesar itu, kebutuhan angkutan lanjutan yang nyaman dan terintegrasi memang menjadi semakin penting. Kehadiran bus listrik di lintasan ini diharapkan bisa menekan penggunaan kendaraan pribadi, mengurangi kemacetan, dan mempermudah perjalanan warga yang harus melanjutkan mobilitas ke Jakarta atau ke pusat-pusat aktivitas lain di Bogor.
Selama masa uji coba, pemerintah daerah akan memantau tingkat penggunaan, antusiasme penumpang, dan efektivitas operasional. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar untuk menentukan apakah armada perlu ditambah dan apakah layanan dapat dikembangkan menjadi sistem transportasi permanen yang lebih luas. Jadi, tiga bulan gratis ini bukan sekadar bonus naik bus tanpa bayar, tetapi sebenarnya juga masa ujian apakah warga benar-benar mau beralih ke angkutan umum yang lebih hijau.
Selain layanan reguler, Pemkab Bogor juga mulai mengkaji pengembangan transportasi berbasis wisata. Salah satu gagasan yang sedang dibahas adalah pengoperasian bus tingkat atap terbuka dengan lintasan dari Cibinong hingga Kawasan Puncak. Jika rencana ini benar-benar diwujudkan, maka KaBogor Bus Listrik bisa menjadi titik awal transformasi transportasi publik Bogor ke arah yang lebih modern, terintegrasi, dan punya nilai tambah untuk mobilitas sehari-hari maupun sektor pariwisata.






