Para astronom kembali mencatat tonggak penting dalam sejarah kosmologi setelah NASA melalui James Webb Space Telescope (JWST) berhasil mengonfirmasi keberadaan galaksi tertua sekaligus terjauh yang pernah diamati, bernama MoM-z14. Galaksi purba ini diperkirakan telah berusia sekitar 13,52 miliar tahun, dengan ukuran diameter hanya sekitar 240 tahun cahaya.
Penemuan tersebut dipublikasikan dalam Open Journal of Astrophysics pada akhir Januari dan menyebut MoM-z14 sebagai sumber spektrum paling jauh yang pernah terdeteksi. Galaksi ini mulai memancarkan cahaya hanya sekitar 280 juta tahun setelah Big Bang, atau tak lama setelah alam semesta terbentuk. Cahaya purba tersebut kemudian menempuh perjalanan kosmik yang sangat panjang sebelum akhirnya ditangkap oleh sensor inframerah JWST di Bumi.
Rohan Naidu, penulis utama studi sekaligus peneliti dari Institut Kavli untuk Astrofisika dan Studi Luar Angkasa di Massachusetts Institute of Technology, menjelaskan bahwa temuan ini berada di luar perkiraan awal para ilmuwan. Ia menyebut JWST membuka jendela pengamatan baru ke masa paling awal alam semesta dan menghadirkan tantangan ilmiah sekaligus antusiasme besar dalam memahami asal-usul galaksi.
Proses identifikasi MoM-z14 diawali dengan penelusuran arsip data JWST untuk mencari objek-objek yang diduga berasal dari era kosmik awal. Setelah dinilai menjanjikan, teleskop diarahkan langsung ke objek tersebut pada April 2025 untuk pengamatan lanjutan yang lebih mendalam.
Usia ekstrem MoM-z14 ditentukan melalui pengukuran pergeseran merah atau redshift. Fenomena ini terjadi karena cahaya dari objek yang sangat jauh meregang seiring dengan mengembangnya alam semesta. Hasil pengukuran menunjukkan nilai redshift MoM-z14 mencapai 14,44, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang galaksi JADES-GS-z14-0 dengan nilai 14,18.
Meski tergolong sangat kecil, MoM-z14 memancarkan cahaya dalam jumlah besar. Ukurannya sekitar 400 kali lebih kecil dibandingkan Galaksi Bima Sakti, dan massanya diperkirakan sebanding dengan Awan Magellan Kecil. Para peneliti juga mengamati galaksi ini saat berada dalam fase pembentukan bintang yang sangat aktif.
Analisis spektrum menunjukkan MoM-z14 memiliki kandungan nitrogen yang relatif tinggi dibandingkan karbon, karakteristik yang mirip dengan gugus bola di Bima Sakti. Gugus-gugus tersebut diyakini terbentuk pada masa-masa awal alam semesta, sehingga kemiripan ini mengindikasikan bahwa proses pembentukan bintang sudah berlangsung dengan pola yang serupa sejak era kosmik paling dini.
Ke depan, para ilmuwan berharap dapat menemukan lebih banyak galaksi dengan redshift sangat tinggi untuk melengkapi pemahaman tentang fase awal alam semesta. Harapan besar juga disematkan pada Nancy Grace Roman Space Telescope, teleskop inframerah generasi berikutnya yang dirancang untuk memindai area langit yang jauh lebih luas dan dijadwalkan meluncur paling cepat pada akhir 2026.






