Lonjakan harga emas dan perak mendorong gelombang besar penjualan logam mulia di Amerika Serikat. Di San Francisco, toko koin dan logam mulia Witter Coin hampir tak pernah sepi pelanggan. Aktivitas jual beli meningkat tajam hingga membuat toko tersebut dijaga personel keamanan tambahan demi mengantisipasi ramainya transaksi bernilai tinggi.
Seth Chandler, pemilik Witter Coin, menyebut situasi saat ini belum pernah ia alami sejak menjalankan bisnis perdagangan logam mulia pada 2016. Menurutnya, antusiasme warga untuk menjual emas dan perak menciptakan “demam” tersendiri, seiring harga kedua komoditas tersebut mencetak rekor tertinggi dalam sejarah modern.
Pekan lalu, harga emas dunia sempat menyentuh kisaran 5.600 dolar AS per ons, sementara perak melampaui 120 dolar AS. Meski kini harga sedikit terkoreksi akibat aksi ambil untung investor, secara tahunan emas telah melonjak lebih dari 70 persen dan perak mencatat kenaikan jauh lebih tajam.
Di tengah biaya hidup yang masih tinggi, banyak warga Amerika mencari sumber dana tambahan. Laporan media seperti CNN mencatat toko gadai dan toko koin di berbagai negara bagian mengalami lonjakan jumlah warga yang datang untuk menjual perhiasan, koin emas, batangan perak, hingga peralatan rumah tangga berbahan logam mulia.
Chandler mengungkapkan bahwa jumlah pelanggan di tokonya kini empat hingga lima kali lebih banyak dibanding dua tahun lalu. Dalam enam bulan terakhir saja, lonjakan pengunjung membuatnya harus menggandakan jumlah karyawan agar mampu melayani transaksi yang terus berdatangan.
Emas dan perak selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai. Ketika pasar saham bergejolak, inflasi mengancam, atau ketegangan geopolitik meningkat, minat terhadap logam mulia biasanya melonjak. Situasi global belakangan, termasuk kekhawatiran kebijakan perdagangan dan geopolitik Amerika Serikat, ikut mendorong harga naik signifikan.
Menurut Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank, banyak investor percaya emas dan perak akan tetap menjaga nilai jika pasar saham terkoreksi atau inflasi kembali meningkat. Keyakinan ini membuat permintaan tetap tinggi, bahkan saat sebagian investor mulai merealisasikan keuntungan.
Sejumlah bank besar juga masih optimistis terhadap prospek harga. Goldman Sachs dan Bank of America memperkirakan harga emas berpotensi berada di kisaran 5.400 hingga 6.000 dolar AS per ons pada akhir tahun.
Tingginya harga membuat banyak barang bersejarah tak luput dari peleburan. Chandler mengaku kerap harus melelehkan jam saku emas buatan abad ke-19 atau perhiasan antik karena nilai logam mentahnya kini jauh lebih tinggi dibanding nilai koleksi.
Fenomena serupa juga terjadi pada perak. Kelly Swisher, pemilik toko Arlington Jewelry and Pawn di Illinois, mengatakan pembelian perak melonjak drastis. Ia mengaku pernah membayar 6.000 dolar AS untuk satu set perak besar, padahal setahun sebelumnya nilainya hanya sekitar setengahnya. Harga perak sendiri tercatat melonjak lebih dari 160 persen sepanjang 2025, didorong kombinasi permintaan industri yang kuat dan pasokan yang terbatas.
Bagi banyak warga, penjualan emas dan perak menjadi penyelamat finansial yang tak terduga. Swisher menyebut tak jarang pelanggan terkejut, bahkan menangis, ketika mengetahui perhiasan lama atau serpihan emas di laci rumah ternyata bernilai ratusan hingga ribuan dolar. Di tengah tekanan ekonomi, uang hasil penjualan logam mulia itu terasa seperti “rezeki jatuh dari langit”.






