Kementerian Sosial menggelar doa bersama dan tahlil untuk tiga prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Aneka Bhakti, Jakarta, dan diikuti oleh jajaran pegawai Kemensos sebagai bentuk penghormatan kepada para prajurit yang dinilai telah gugur dalam tugas negara.
Tiga prajurit yang dikenang dalam acara tersebut adalah Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anm) Sertu Muhammad Nur Ikhwan, dan Kopda (Anm) Farizal Rhomadhon. Rangkaian pembacaan tahlil dan doa dipimpin oleh Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan dan Fakir Miskin, Ishaq Zubaedi Raqib. Suasana acara dibangun sebagai ruang penghormatan, doa, dan refleksi atas pengabdian ketiganya.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyebut ketiga prajurit itu sebagai pahlawan bangsa sekaligus syuhada. Dalam keterangannya, ia menyampaikan harapan agar mereka termasuk golongan orang-orang yang syahid. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bagi Kemensos, penghormatan kepada prajurit yang gugur tidak hanya berhenti pada status kenegaraan, tetapi juga masuk ke dimensi spiritual yang lebih dalam.
Sebelum pembacaan tahlil, acara diawali dengan doa lintas iman yang dibawakan siswa-siswi Sekolah Rakyat dari wilayah Jabodetabek. Doa disampaikan secara bergiliran oleh perwakilan Islam, Katolik, Kristen, Buddha, dan Hindu. Kehadiran unsur lintas agama ini memberi pesan kuat bahwa penghormatan kepada prajurit gugur diletakkan dalam bingkai kebangsaan yang inklusif, tidak terbatas pada satu keyakinan saja.
Gus Ipul juga menjelaskan bahwa tahlil yang dibacakan bukan hanya ditujukan bagi para prajurit yang wafat, tetapi juga untuk mendoakan orang tua dan keluarga yang telah lebih dulu meninggal dunia. Menurutnya, tradisi tahlil memiliki dimensi sosial yang lebih luas dan mengandung nilai-nilai yang sejalan dengan semangat hidup bersama dalam masyarakat Indonesia.
Dalam pandangannya, tahlil bahkan dapat dibaca sebagai praktik yang mencerminkan nilai Pancasila. Ia mencontohkan bahwa bacaan “Qul huwallahu ahad” merepresentasikan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sementara keterbukaan tahlil yang bisa dihadiri siapa saja tanpa memandang latar belakang dilihatnya sebagai cerminan kemanusiaan, persatuan, dan kehidupan bersama yang saling menghormati.
Gus Ipul juga menilai tradisi ini berkaitan dengan sila keempat dan kelima, karena dalam praktiknya ada unsur musyawarah dalam menentukan pemimpin tahlil serta adanya nilai kebersamaan yang dibagikan kepada semua peserta tanpa membeda-bedakan. Pandangan ini memang cukup menarik, karena ia mencoba meletakkan praktik keagamaan populer dalam kerangka kebangsaan yang lebih luas. Bisa dibilang, tahlilan kali ini bukan cuma doa, tapi juga semacam kuliah singkat Pancasila versi duduk lesehan batin.
Acara ini turut dihadiri Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico, para direktur jenderal di lingkungan Kemensos, dan pejabat tinggi madya lainnya. Dengan rangkaian doa, tahlil, dan refleksi kebangsaan tersebut, Kemensos menunjukkan bahwa penghormatan kepada prajurit gugur dapat dilakukan bukan hanya lewat seremoni resmi, tetapi juga melalui ruang spiritual yang menyatukan penghormatan, keimanan, dan nilai-nilai kebangsaan dalam satu momen yang khidmat.






