Falcon Heavy akhirnya kembali terbang setelah absen selama 18 bulan. Roket andalan SpaceX itu meluncur dari Kennedy Space Center pada malam 29 April, menandai kembalinya salah satu peluncur terkuat yang masih aktif digunakan dalam misi ruang angkasa komersial maupun ilmiah.
Misi kali ini membawa satelit komunikasi ViaSat-3 F3 yang memiliki bobot sekitar 6 ton. Satelit tersebut akan ditempatkan di orbit geostasioner pada ketinggian 35.786 km di atas Bumi. Pada posisi ini, satelit dapat terus berada di area yang sama relatif terhadap permukaan planet, sehingga cocok untuk layanan komunikasi jangka panjang.
Setelah peluncuran, tahap pendorong di sisi Falcon Heavy kembali ke daratan dan mendarat sesuai rencana. Sementara itu, pendorong tengah jatuh ke Samudra Atlantik setelah menyelesaikan tugasnya. Tahap atas kemudian melanjutkan perjalanan membawa ViaSat-3 F3 menuju orbit operasi, dan proses penyebaran satelit berlangsung beberapa jam setelah lepas landas.
SpaceX sempat menjadwalkan peluncuran pada 27 April, tetapi cuaca buruk membuat jadwal bergeser dua hari. Penundaan semacam ini cukup umum dalam penerbangan antariksa, terutama ketika keselamatan dan kondisi atmosfer menjadi faktor utama. Begitu cuaca membaik, peluncuran akhirnya bisa dilaksanakan tanpa hambatan berarti.
Falcon Heavy sendiri menggunakan tiga pendorong yang berasal dari Falcon 9 dan dimodifikasi untuk misi berat. Dengan daya dorong sekitar 2.300 ton saat lepas landas, roket ini berada di posisi sangat kuat dalam daftar peluncur aktif. Hanya Sistem Peluncuran Luar Angkasa NASA dan Starship yang memiliki daya dorong lebih besar, meski Starship sendiri masih dalam tahap pengembangan.
Ini juga menjadi misi pertama Falcon Heavy setelah 18 bulan tidak digunakan. Terakhir kali roket ini meluncur adalah pada Oktober 2024, ketika membawa pesawat luar angkasa Europa Clipper milik NASA menuju Jupiter. Sebelumnya, Falcon Heavy dikenal lewat debut ikoniknya pada 2018 saat mengirim Tesla Roadster merah milik Elon Musk ke orbit Matahari.
ViaSat-3 F3 adalah satelit ketiga dalam keluarga ViaSat-3. Dua satelit sebelumnya diluncurkan secara terpisah: ViaSat-3 F1 oleh Falcon Heavy pada 2023 dan ViaSat-3 F2 menggunakan Atlas V pada 2025. Kehadiran F3 melengkapi jaringan komunikasi yang ditujukan untuk pelanggan broadband berkecepatan tinggi di kawasan Asia-Pasifik.
Kembalinya Falcon Heavy ke langit memperlihatkan bahwa roket besar ini masih punya peran penting dalam misi-misi berat SpaceX. Dengan kombinasi daya dorong besar, kemampuan mendaratkan kembali pendorong, dan muatan satelit besar yang sangat bernilai, Falcon Heavy tetap menjadi salah satu simbol paling kuat dalam persaingan luar angkasa modern.






