Penyanyi dan penulis lagu asal Bali, Assia Keva, kembali menghidupkan karya dari mini album Forevermore lewat pendekatan yang jauh lebih sederhana dan personal. Jika sebelumnya rilisan itu hadir dalam bentuk produksi penuh, kali ini Assia memilih membawakan tiga lagunya dalam format live piano yang lebih intim dan emosional.
Proyek baru tersebut dirangkum dalam satu entitas rilisan mini berjudul forevermore, but it’s just me and piano. Tiga lagu yang dipilih untuk dihadirkan ulang adalah “Baby July”, “Can We Be Friends Again?”, dan “Looking for Love in Wrong Places”. Ketiganya bukan sekadar dipindahkan ke format akustik biasa, melainkan disajikan ulang dengan nuansa yang lebih tenang, terbuka, dan langsung menyentuh sisi emosional pendengar.
Assia membawakan lagu-lagu itu bersama Kevin Suwandhi dan merekamnya secara live di DeBeat Music Studio, Bali. Pemilihan format live menjadi keputusan penting karena membuat tiap lagu terasa lebih jujur dan organik. Dengan hanya mengandalkan vokal dan piano, perhatian pendengar diarahkan sepenuhnya pada melodi, lirik, dan emosi yang dibawa dalam setiap bait.
Dalam penjelasannya, Assia menyebut ide membuat versi piano ini berangkat dari keinginannya menghadirkan lagu-lagu tersebut dalam bentuk yang lebih dekat. Ia merasa punya hubungan yang sangat personal dengan format bernyanyi akustik, karena itulah akar yang paling ia cintai dalam bermusik. Pernyataan itu membuat proyek ini terasa bukan sebagai strategi ulang rilis semata, tetapi seperti cara pulang ke ruang kreatif yang paling jujur buat dirinya.
Ia juga menilai bahwa dengan menyederhanakan aransemen, pendengar memiliki lebih banyak ruang untuk benar-benar mendengarkan makna lagu. Dalam produksi yang minim lapisan instrumen, vokal dan piano tidak lagi sekadar elemen musik, tetapi menjadi medium utama untuk menyampaikan rasa. Kadang memang lagu baru terasa paling tajam justru saat hiasannya dilepas satu-satu.
Pilihan terhadap tiga lagu ini pun terasa masuk akal. “Baby July”, “Can We Be Friends Again?”, dan “Looking for Love in Wrong Places” sama-sama punya muatan emosional kuat. Dalam versi live piano, masing-masing lagu mendapatkan napas baru yang lebih lembut, lebih rapuh, tetapi sekaligus lebih mudah didekati secara personal oleh pendengar.
Selain versi audio, format video dari forevermore, but it’s just me and piano juga sudah dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi Assia Keva. Sementara versi digitalnya telah tersedia di berbagai platform streaming musik. Strategi ini memberi dua pengalaman sekaligus: penonton bisa menikmati ekspresi visual dan suasana live di video, atau mendengarkan rilisan digital sebagai teman yang lebih hening di keseharian.
Lewat rilisan ini, Assia Keva memperlihatkan bahwa kekuatan lagu tidak selalu lahir dari produksi yang rumit. Kadang yang paling membekas justru datang dari ruang yang sederhana, ketika suara dan piano cukup untuk menyampaikan seluruh isi hati. Dengan forevermore, but it’s just me and piano, Assia berhasil mengubah materi lama menjadi pengalaman baru yang terasa lebih dekat, lebih hangat, dan lebih manusiawi.






