Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo mengambil langkah medis penting untuk mencegah kerusakan lanjutan pada mata kanan aktivis KontraS, Andrie Yunus. Dalam operasi ketiganya yang dilakukan pada 28 Maret 2026, tim dokter menemukan adanya kebocoran pada bola mata kanan korban dan segera melakukan tindakan penambalan darurat untuk mempertahankan kondisinya.
Menurut keterangan resmi pihak rumah sakit, penambalan tersebut dilakukan menggunakan jaringan selaput dari tungkai pasien yang kemudian ditutup dengan selaput konjungtiva. Prosedur ini dipilih sebagai upaya penyelamatan agar kerusakan tidak semakin parah. Dalam kasus cedera kimia berat, langkah cepat seperti ini menjadi sangat penting karena struktur mata bisa memburuk dalam waktu singkat bila tidak segera dilindungi.
Tidak hanya melakukan penambalan, tim medis juga memutuskan untuk menjahit kelopak mata kanan Andrie Yunus. Tindakan ini bertujuan melindungi bentuk bola mata selama masa penyembuhan, terutama karena permukaan kornea dilaporkan semakin menipis. Penutupan kelopak tersebut direncanakan berlangsung selama sekitar empat bulan, setelah itu dokter akan melakukan evaluasi lanjutan untuk menentukan langkah medis berikutnya.
Bagi orang awam, keputusan menjahit kelopak mata mungkin terdengar ekstrem. Namun dalam dunia medis, langkah itu justru merupakan perlindungan yang diperlukan untuk mencegah kerusakan tambahan. Jadi fokus utamanya saat ini bukan langsung memulihkan penglihatan, melainkan menjaga agar kondisi mata tidak semakin runtuh. Kadang dalam situasi kritis, menyelamatkan yang tersisa jauh lebih penting daripada memaksa hasil instan.
Di luar kondisi mata yang sangat serius, perkembangan luka bakar di bagian tubuh lain disebut menunjukkan tren yang cukup positif. Sebagian besar luka telah menutup dan mengering, lalu tertutup oleh kulit baru hasil cangkok di area wajah, leher depan, dada, sebagian pundak, dan lengan kanan. Kabar ini setidaknya memberi secercah kemajuan di tengah beratnya penanganan yang masih dijalani korban.
Pihak rumah sakit juga menyebut kondisi psikologis Andrie Yunus relatif stabil meski ia masih berada dalam pengawasan ketat tim dokter multidisiplin. Hal ini penting karena dalam kasus kekerasan berat, pemulihan tidak hanya menyangkut kondisi fisik, tetapi juga kesiapan mental korban menghadapi masa penyembuhan yang panjang dan penuh ketidakpastian.
RSCM telah menjadwalkan evaluasi luka dalam kondisi sedasi sebanyak dua kali pada pekan yang sama untuk memastikan proses penyembuhan berjalan baik. Masih terdapat area kulit mati di leher belakang yang akan dibersihkan dalam tahapan lanjutan. Artinya, perawatan korban masih sangat intensif dan belum mendekati tahap pemulihan sederhana. Proses medisnya masih panjang, bertahap, dan harus dijalankan sangat hati-hati.
Kasus yang menimpa Andrie Yunus bermula dari serangan air keras usai ia menyelesaikan perekaman siniar di kawasan Salemba I, Jakarta Pusat, pada 12 Maret 2026. Akibat serangan itu, ia mengalami luka bakar di mata, wajah, tangan, dan dada. Dengan tindakan-tindakan besar yang kini diambil RSCM, satu hal menjadi jelas: tim medis sedang berupaya sekuat mungkin menjaga peluang pemulihan korban, meski jalannya pasti berat dan tidak bisa ditempuh secara singkat.






