Seringai resmi menandai fase barunya dengan mengumumkan album keempat bertajuk IV: Anastasis. Pengumuman itu disampaikan melalui akun Instagram resmi mereka pada pertengahan Maret 2026 dan langsung menjadi sorotan, bukan hanya karena lama ditunggu, tetapi juga karena album ini hadir setelah masa berat yang dialami band tersebut sepanjang 2025.
Visual pengumuman menampilkan tiga personel yang kini tersisa, yakni Arian Arifin, Sammy Bramantyo, dan Edy Khemod. Bagi penggemar Seringai, tampilan itu bukan sekadar materi promosi biasa. Gambar tersebut terasa seperti pernyataan yang sangat jelas bahwa band ini memilih tetap melangkah, meski kehilangan besar sempat menghantam fondasi mereka.
IV: Anastasis menjadi rilisan pertama Seringai setelah wafatnya gitaris Ricky Siahaan pada April 2025. Karena itu, judul “Anastasis” yang berarti kebangkitan terasa sangat simbolis. Ia tidak terdengar seperti nama album yang dipilih asal keren, melainkan seperti sikap resmi band terhadap duka: mereka tidak menutup cerita, mereka mengubah arahnya.
Hingga kini, detail teknis mengenai tracklist, tanggal rilis penuh, maupun arah sonik album belum dibuka lebar. Namun dari judul, visual, dan momentum pengumumannya, garis besar narasi album sudah cukup terbaca. Seringai tampaknya sedang masuk ke fase yang lebih reflektif, tanpa harus melepaskan identitas keras yang selama ini melekat pada mereka.
Dalam katalog perjalanan Seringai, album ini akan menjadi lanjutan dari jejak panjang yang dimulai dari High Octane Rock pada 2004, lalu Serigala Militia pada 2007, Taring pada 2012, dan Seperti Api pada 2018. Selama lebih dari dua dekade, band ini membangun reputasi bukan hanya lewat musik, tetapi juga lewat konsistensi sikap, lirik, dan basis penggemar yang sangat loyal.
Karena itulah, pengumuman album baru ini punya makna yang lebih besar daripada sekadar kabar rilisan. Ia menjadi penegasan bahwa Seringai masih hidup sebagai entitas kreatif. Setelah kehilangan satu anggota kunci, banyak band memilih diam lebih lama atau menghilang tanpa keputusan jelas. Seringai justru menjawab dengan karya baru, dan itu selalu terasa lebih keras daripada seribu caption motivasi.
Album ini juga membuka bab baru dalam hubungan band dengan para pendengarnya. Bagi banyak penggemar, IV: Anastasis kemungkinan besar akan dibaca bukan hanya sebagai kumpulan lagu, tetapi juga sebagai dokumen emosional tentang bertahan, bertransformasi, dan melanjutkan hidup setelah pukulan besar. Di situ letak bobotnya: musiknya mungkin tetap liar, tetapi konteksnya menjadi jauh lebih personal.
Pada akhirnya, IV: Anastasis bukan cuma menandai album studio keempat Seringai. Ia berdiri sebagai simbol bahwa band ini belum selesai, belum menyerah, dan belum kehilangan suara. Dalam dunia musik yang sering penuh jeda, pembubaran, dan nostalgia tanpa arah, pengumuman ini terdengar tegas: Seringai memilih bangkit, bukan tinggal jadi kenangan.






