Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai menyalurkan uang kompensasi bagi sopir angkot, pengemudi becak, dan kusir andong menjelang arus mudik dan balik Idulfitri 2026. Bantuan ini diberikan sebagai pengganti pendapatan mereka selama masa tidak beroperasi ketika lalu lintas mudik dan wisata Lebaran berlangsung.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa sebanyak 3.000 pengemudi akan menerima kompensasi tersebut. Total dana yang disiapkan untuk program ini mencapai Rp6,9 miliar. Penyaluran mulai dilakukan pada Kamis malam, 12 Maret 2026, dan ditargetkan rampung seluruhnya keesokan harinya.
Menurut Dedi, kebijakan ini diambil karena sebagian pengemudi harus diliburkan demi mendukung kelancaran arus kendaraan selama masa mudik. Tidak hanya saat arus berangkat menuju kampung halaman, sebagian juga akan diliburkan setelah Lebaran ketika arus wisata diperkirakan meningkat di sejumlah kawasan di Jawa Barat.
Penerima kompensasi berasal dari sejumlah daerah, antara lain Garut, Cirebon, Subang, Bogor, Cianjur, Padalarang, Lembang, dan Kota Bandung. Wilayah-wilayah tersebut dipilih karena menjadi titik aktivitas transportasi lokal sekaligus berpotensi terdampak oleh pengaturan lalu lintas selama musim mudik dan libur hari raya.
Dedi menegaskan bahwa kebijakan ini bukan semata langkah administratif, tetapi bentuk penghargaan terhadap kelompok pekerja transportasi yang pendapatannya langsung terganggu ketika aktivitas operasional dibatasi. Dengan kompensasi itu, diharapkan beban ekonomi mereka dapat sedikit berkurang selama periode Lebaran.
Selain urusan kompensasi, Pemprov Jabar juga menyiapkan layanan kesehatan bagi masyarakat selama mudik dan balik Idulfitri. Salah satu langkah yang cukup menarik adalah penggunaan mobil Mercy operasional gubernur yang telah direnovasi menjadi kendaraan layanan kesehatan darurat dan akan ditempatkan di Tol Cipali.
Dedi menjelaskan bahwa ide tersebut lahir dari pengalaman adanya warga yang sempat melahirkan di pinggir jalan tol. Karena itu, pemerintah provinsi ingin menyediakan fasilitas yang lebih layak jika situasi serupa kembali terjadi. Jadi, kalau keadaan darurat datang di tengah jalan, minimal yang menolong bukan cuma lampu hazard dan kepanikan bersama.
Di akhir keterangannya, Dedi juga mengimbau masyarakat untuk menghargai seluruh petugas yang bekerja di lapangan selama arus mudik dan balik. Ia menyampaikan terima kasih bukan hanya kepada aparat, tetapi juga kepada keluarga mereka yang rela berbagi waktu Lebaran. Apresiasi khusus turut diberikan kepada petugas kebersihan yang tetap bekerja ketika masyarakat menikmati hari raya.






