Konser The 90’s Intimate Second Edition di Istora Senayan, Jakarta, berubah jadi malam penuh nostalgia ketika Michael Learns to Rock (MLTR) tampil sebagai penutup utama. Atmosfer hangat langsung terasa sejak awal pertunjukan, dengan penonton yang nyaris tak berhenti bernyanyi bersama hingga lagu terakhir.
Sebelum MLTR naik panggung, konser lebih dulu diisi oleh deretan musisi lintas negara. Nama-nama seperti Peabo Bryson, Jim Brickman, serta dua diva Indonesia Vina Panduwinata dan Rita Effendy ikut memanaskan suasana. Pergantian penampil membuat acara terasa seperti perjalanan lintas era, sebelum akhirnya dibawa pulang ke memori tahun 90-an lewat MLTR.
MLTR membuka penampilannya dengan “Complicated Heart” dan melanjutkan dengan “I Still Carry On”, dua lagu yang mengajak penonton kembali ke awal perjalanan karier band asal Denmark itu. Di beberapa bagian, mereka menghadirkan aransemen yang terasa lebih intim, memanfaatkan grand piano, permainan ritmis, dan nuansa akustik yang membuat komposisi balada mereka terdengar segar.
Interaksi dengan penonton menjadi salah satu kekuatan konser ini. MLTR tidak hanya tampil musikal, tetapi juga komunikatif. Mereka menyelipkan cerita di balik layar proses kreatif, termasuk kisah lucu tentang lagu “Wild Women” yang disebut punya warna berbeda dibanding karya-karya MLTR lainnya.
Momen yang memancing tawa terjadi saat mereka membahas nama band. MLTR mengakui bahwa sejak awal mereka sebenarnya ingin menjadi band rock, dan itulah asal-usul nama Michael Learns to Rock. Di panggung, candaan itu justru memperkuat kesan akrab—penonton merasa bukan hanya sedang menonton konser, tetapi juga berbagi cerita dengan band yang sudah mereka ikuti sejak lama.
Personel MLTR juga menegaskan bahwa dukungan penggemar Indonesia punya tempat khusus. Mereka mengingat bagaimana sambutan hangat sudah terasa sejak era “The Actor”, bahkan ketika mereka menghadapi masa sulit di industri musik. Kalimat-kalimat sederhana tentang “koneksi” dan “energi” penonton, terdengar seperti pengakuan jujur bahwa Indonesia tetap menjadi salah satu rumah paling ramah bagi MLTR.
Dalam setlist, MLTR membawa deretan hits yang menjadi soundtrack banyak orang: “Someday”, “Sleeping Child”, “You Are the One I Love”, “The Actor”, “25 Minutes”, dan lagu ikonik lainnya. Komposisi lagu-lagu itu membuat konser terasa seperti rangkaian kenangan yang tidak putus—satu lagu memicu ingatan, lagu berikutnya membuat penonton kembali ikut bernyanyi lebih keras.
Jika ada satu kesan yang tertinggal, itu adalah: MLTR masih tahu cara membuat Istora terasa “hangat”. Bukan hanya karena lagu-lagunya, tetapi karena mereka memperlakukan panggung sebagai ruang pertemuan—antara band dan penonton yang sudah lama tumbuh bersama musik mereka.






