Kasus keracunan yang diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Cimahi tidak hanya menimpa siswa. Seorang guru sekolah dasar, Erika Tika Sari (45), juga dilaporkan mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi bagian dari menu MBG yang diterima sekolahnya.
Erika, guru di SDN Karangmekar Mandiri 1, sempat dilarikan ke IGD RSUD Cibabat pada Rabu malam, 25 Februari 2026, setelah mengalami muntah dan pusing. Kondisinya sempat memerlukan penanganan medis, termasuk pemasangan infus akibat kehilangan banyak cairan.
Menurut keterangannya, ia menyantap menu sekitar pukul 13.30 WIB setelah pulang mengajar karena saat itu sedang tidak berpuasa. Dari paket MBG yang berisi onigiri, telur rebus, apel, kurma, dan susu UHT, Erika mengaku hanya memakan onigiri.
Ia juga mengatakan onigiri isi ayam suwir tersebut tidak dihabiskan karena merasa ada rasa yang tidak biasa. Sekitar dua jam kemudian, ia mulai merasakan mual dan pusing yang semakin mengganggu, sebelum akhirnya menyadari ada laporan serupa dari lingkungan sekolah.
Erika sempat mengira gejala awal yang dialaminya hanya masuk angin. Namun setelah membaca informasi di grup sekolah tentang adanya dugaan keracunan usai menyantap MBG, ia menyimpulkan bahwa keluhannya kemungkinan berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi.
Setelah mendapatkan penanganan di RSUD Cibabat, kondisi Erika berangsur membaik. Ia menyebut gejala mual, pusing, dan muntah mulai mereda, dan dokter menyarankan dirinya untuk beristirahat beberapa hari sebelum kembali beraktivitas seperti biasa.
Selain Erika, laporan menyebut terdapat puluhan siswa yang mengalami keluhan serupa, dengan jumlah korban mencapai 42 siswa dari sejumlah sekolah. Kasus ini kemudian memicu respons cepat dari Pemerintah Kota Cimahi untuk menelusuri penyebab pasti kejadian.
Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira menyatakan pihaknya telah memanggil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan menu MBG ke sekolah-sekolah. Pemerintah meminta penjelasan dan melakukan evaluasi atas insiden tersebut sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Sampel makanan telah dikirim ke Labkesda Jawa Barat untuk diuji secara klinis. Sementara proses observasi penyebab keracunan berjalan sesuai mekanisme, Pemkot Cimahi menegaskan fokus utama saat ini adalah penanganan pasien bergejala, dan operasional SPPG yang terkait disebut dihentikan sementara oleh Wali Kota Cimahi.






